Deteksi Kanker Payudara Bisa Melalui Tes Urine, Begini Caranya

Jakarta, wsb – Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di berbagai belahan dunia. Penyakit ini terjadi ketika sel-sel tubuh berubah secara tidak normal, dapat membentuk tumor, menyebar, dan merusak fungsi jaringan sehat di sekitarnya.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2020, sebanyak 234.000 orang di Indonesia meninggal karena kanker. Namun, beberapa jenis kanker sebenarnya bisa dicegah dengan deteksi dini kanker.

Saat ini DeBio Network dan ITB menyediakan layanan tes genetik BRCA berbasis urin yang hanya membutuhkan 5 mL sampel urin dalam waktu maksimal 63 hari.

Selanjutnya, tes akan fokus pada mutasi exon2 pada gen BRCA-1, sehingga risiko berkembangnya kanker payudara atau rahim dapat diketahui di kemudian hari.

Ahli Biomolekuler dan Genetika dari SITH ITB – Dr Karlia Meitha mengatakan metode pengujian baru ini memungkinkan pengambilan sampel secara non-invasif dan tidak seperti metode lain yang membutuhkan pengambilan darah.

Sementara itu, CEO DeBio – Pandu Sastrowardoyo berharap ke depan akan banyak jenis kanker lain yang dapat dideteksi lebih dini.

“Kanker payudara dan rahim hanya langkah awal kami dalam berinovasi menyelamatkan wanita di seluruh dunia. Ke depan, akan ada ribuan penyakit dan kanker lain yang dapat dideteksi secara dini berdasarkan desentralisasi pelayanan kesehatan,” kata Pandu, selaku dikutip dari siaran pers, Jumat. (8/4/2022).

Seperti diketahui, kanker payudara merupakan kasus paling umum di dunia. Sekitar 7,8 juta wanita didiagnosis dengan penyakit ini untuk periode 2015-2020.

Kanker payudara juga merupakan kanker dengan angka kematian tertinggi. Tetapi deteksi dini dan tindakan yang lebih baik telah menurunkan statistik ini sebesar 41 persen dibandingkan dengan tahun 1980-an.

Baca Juga :  Himpunan

Deteksi dini merupakan faktor penting dalam menyelamatkan pasien kanker payudara. Berdasarkan penelitian Alkabban dan Ferguson tahun 2018, dimana 93 persen kanker payudara stadium 2 masih bisa diselamatkan jika terdeteksi dini selama lima tahun pertama.

[Gambas:Video CNBC]

(hsy/hsy)