Pandemi Covid Disebut Picu Coronasomnia, Bisa Bahaya?

Jakarta, wsb – Sekitar empat dari sepuluh orang mengalami kesulitan tidur selama pandemi Covid-19. Para ahli menyebut masalah tidur ini sebagai “Coronasomnia,” yang merupakan gabungan dari coronavirus dan insomnia.

Mengutip Sleep Foundation, Coronasomnia terjadi karena dipicu oleh stres, kesedihan, dan kecemasan yang ditimbulkan pandemi Covid-19 dan dampaknya pada kehidupan sehari-hari.

Coronasomnia ditandai dengan peningkatan masalah tidur selama pandemi, serta gejala kecemasan, depresi, dan stres. Bagi banyak orang, gejala Coronasomnia baru terjadi atau memburuk selama pandemi. 

Selama pandemi COVID-19, berbagai penelitian telah menunjukkan peningkatan tingkat insomnia dan gangguan kesehatan mental. Sebelum pandemi, sekitar 24% orang menderita insomnia. Namun selama pandemi, angka itu meningkat menjadi 40%. 

Kebiasaan tidur orang juga berubah selama pandemi. Orang-orang tidur lebih sedikit pada malam hari, namun lebih banyak tidur di siang hari. Mereka juga memundurkan waktu tidur dan bangun mereka, masing-masing sebanyak 39 dan 64 menit. Akibatnya, kualitas tidur terganggu.

Berikut adalah gejala yang menunjukkan Anda menderita Coronasomnia:

  • Sulit tidur pulas
  • Tingkat stres meningkat
  • Peningkatan gejala kecemasan dan depresi, seperti pikiran yang mengganggu
  • Jadwal tidur yang tertunda
  • Gejala kurang tidur, seperti lebih sering mengantuk di siang hari, gangguan konsentrasi dan fokus, dan suasana hati yang buruk

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Kapan Pandemi Covid Akan Berakhir? Ini Kabar Terbaru dari WHO

(hsy/hsy)


Baca Juga :  4 Cara Jual Uang Kuno ke Kolektor, Bisa Laku Harga Tinggi