Ini Besaran & Perhitungan THR Pegawai Swasta 2022

Jakarta, wsb – Salah satu hal yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia khususnya karyawan saat merayakan Idul Fitri adalah THR atau Tunjangan Hari Raya.

THR atau Tunjangan Hari Raya merupakan penghasilan non pokok yang wajib dibayarkan oleh perusahaan kepada karyawan setiap menjelang hari raya. THR selalu identik dengan Idul Fitri bagi umat Islam.

Menteri Tenaga Kerja juga telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor M/1/HK.04/IV/2022 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2022 Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan ditujukan kepada para gubernur di seluruh Indonesia. Melalui surat tersebut, Menteri Tenaga Kerja meminta kepala daerah memastikan perusahaan memenuhi kewajiban membayar THR kepada pekerja.

Berapa THR untuk pekerja?

Berikut ketentuan penghitungan THR berdasarkan Surat Edaran (SE) Menteri Tenaga Kerja Nomor M/1/HK.04/IV/2022

Besaran THR Keagamaan diberikan sebagai berikut:

  • Bagi pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja dua belas bulan terus menerus atau lebih, diberikan upah satu bulan.
  • Bagi pekerja/buruh yang masa kerja satu bulan terus menerus tetapi kurang dari dua belas bulan, diberikan secara proporsional menurut perhitungan: masa kerja dibagi 12 kali upah satu bulan.

Bagi pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian, upah satu bulan dihitung sebagai berikut:

  • Pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja dua belas bulan atau lebih, upah satu bulan dihitung berdasarkan upah rata-rata yang diterima dalam dua belas bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan.
  • Pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja kurang dari dua belas bulan, upah satu bulan dihitung berdasarkan upah rata-rata yang diterima setiap bulan selama masa kerja.

Bagi pekerja/buruh yang upahnya ditentukan berdasarkan satuan keluaran, upah satu bulan dihitung berdasarkan upah rata-rata dua belas bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan.

Bagi perusahaan yang menetapkan nilai THR Keagamaan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama, atau kebiasaan yang telah dilakukan, yang lebih besar dari nilai THR Keagamaan sebagaimana dimaksud pada angka 2 di atas, maka THR Keagamaan dibayarkan kepada pekerja. /buruh sesuai dengan perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama, atau kebiasaan yang telah dilakukan.

“Menteri Tenaga Kerja juga telah meminta gubernur untuk mendorong perusahaan di daerahnya untuk membayar THR keagamaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain itu, perusahaan yang mampu didorong untuk membayar THR keagamaan lebih awal sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran keagamaan. THR.”

[Gambas:Video CNBC]

(saya/saya)


Baca Juga :  Wisata Dibuka Kembali, Turis dari 43 Negara Bebas Masuk RI