Simak! Ini 7 Fakta Penyakit Cacar Monyet yang Bikin WHO Cemas

Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencemaskan penyebaran kasus penyakit cacar monyet yang masif di seluruh dunia. Hingga kini, badan tersebut melaporkan sudah ada lebih dari 14.000 kasus cacar monyet secara global, lima di antaranya meninggal dunia. 

Apa sebenarnya penyakit cacar monyet dan kenapa ini jadi ancaman kesehatan baru? Berikut adalah 7 fakta tentang penyakit cacar monyet yang perlu Anda ketahui. 

1. Penyakit langka 

Cacar monyet merupakan penyakit langka yang dipicu oleh virus monkeypox.

Penyakit ini biasanya dimulai dengan gejala yang mirip dengan flu, termasuk demam, sakit kepala, nyeri otot, kedinginan, kelelahan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala tersebut kemudian berkembang menjadi ruam menyakitkan yang dapat menyebar ke seluruh tubuh.

Namun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat melaporkan beberapa kasus cacar monyet baru-baru ini di AS telah menyimpang dari pola umum. Di beberapa pasien, ruam menyebabkan nyeri pada anus dan rektum, peradangan yang menyakitkan pada lapisan rektum (proctitis), dan sensasi harus buang air besar saat usus kosong (tenesmus).

2. Mulanya penyakit endemik di Afrika barat dan tengah

Cacar monyet adalah penyakit zoonosis virus yang terjadi terutama di daerah hutan hujan tropis di Afrika tengah dan barat. Namun, cacar monyet kini tak lagi menjadi penyakit endemik di kawasan tersebut. Dalam beberapa bulan terakhir, cacar monyet menyebar dengan cepat di lebih dari 40 negara di luar Afrika. Ini merupakan kejadian yang tidak biasa.

WHO juga mengatakan telah menghapus perbedaan wsb negara-negara endemik dan non-endemik untuk penyakit cacar monyet demi menghindari stigma dan rasisme.

Baca Juga :  Sering Diabaikan, Ini 9 Tanda-tanda Jantung Anda Tidak Sehat

3. Diduga berasal dari bangkai kera dan tikus

Kepala divisi kesehatan Sankuru di Kongo, Dr Aime Alongo, mengatakan bertahannya penyakit cacar monyet di Kongo adalah karena masyarakatnya doyan mengonsumsi kera dan tikus mati.

“Warga masuk ke hutan, mengambil bangkai kera, kelelawar, dan tikus yang menjadi reservoir cacar monyet,” kata pejabat tersebut, dikutip dari Washington Post. 

4. Bisa ditularkan lewat benda mati

CDC mengungkap bahwa cacar monyet dapat menular lewat benda mati yang terkontaminasi virus, seperti handuk dan seprai. 

Cacar monyet dapat menyebar ke siapa saja melalui kontak dekat, pribadi, sering kali dari kulit ke kulit termasuk:

  • Kontak langsung dengan ruam cacar monyet, luka, atau koreng
  • Kontak dengan benda, kain (pakaian, tempat tidur, atau handuk), dan permukaan yang pernah digunakan oleh penderita cacar monyet
  • Melalui percikan pernapasan atau cairan mulut dari orang yang terkena cacar monyet

5. Bukan penyakit menular seksual

WHO menegaskan bahwa cacar monyet bukan penyakit menular seksual. Meski demikian, penyakit ini bisa ditularkan saat berhubungan seksual, seperti:

  • Seks oral, anal, dan vagina atau menyentuh alat kelamin atau anus orang yang terkena cacar monyet
  • Memeluk, memijat, mencium, atau berbicara dari jarak sangat dekat
  • Menyentuh kain dan benda saat berhubungan seks yang digunakan oleh penderita cacar monyet, seperti tempat tidur, handuk, dan mainan seks

6. Penyakit mematikan, namun bisa sembuh sendiri

WHO menyatakan bahwa cacar monyet pertama kali diidentifikasi di manusia pada tahun 1970. Secara historis, rasio kasus kematian berkisar dari 0-11% pada populasi umum, dan lebih tinggi di wsb anak-anak.

Kabar baiknya, cacar monyet biasanya sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 2 hingga 4 minggu.

7. Bisa dicegah dengan vaksin

AS memiliki dua vaksin pencegahan dan dua perawatan antivirus yang dapat digunakan untuk Orthopox, kelompok virus yang menaungi jenis virus monkeypox penyebab cacar monyet.

Vaksin dengan nama dagang Jynneos telah disetujui untuk pencegahan penyakit cacar monyet. Vaksin tersebut dapat diberikan kepada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ini Asal Usul Penyakit Cacar Monyet yang Kini Disorot WHO

(hsy/hsy)