Sudahkah Anda divaksinasi dengan booster tetapi terinfeksi Covid? Ini adalah Kata Pakar

Jakarta, wsb – Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan bahwa vaksin Covid-19 efektif dalam mencegah infeksi, penyakit serius, dan kematian.

Namun, vaksin tidak 100% efektif mencegah penularan, sehingga ada kemungkinan bagi yang sudah divaksinasi namun masih bisa tertular Covid-19.

“Kebanyakan orang yang terkena Covid-19 tidak divaksinasi. Namun karena vaksin tidak 100% efektif mencegah infeksi, sebagian orang yang sudah divaksinasi lengkap tetap akan terkena Covid-19,” tulis CDC, dikutip Sabtu (16/4). /2022).

Profesor Lawrence Young, ahli virus di Fakultas Kedokteran Universitas Warwick, Inggris, mengatakan hal yang sama. Menurutnya, belum ada vaksin yang 100% efektif dan masih akan ada masyarakat yang rentan terhadap virus tersebut.

“Akan selalu ada proporsi individu yang rentan terhadap infeksi dan penyakit,” katanya.

Seperti diketahui, program vaksinasi booster telah dilakukan di sejumlah negara, termasuk Indonesia sejak beberapa waktu lalu. Adapun penerima vaksin primer Sinovac, WHO mendorong penerima untuk menerima dosis ketiga.

Menurut WHO, booster dapat melindungi tubuh dari virus Covid-19. Pasalnya, ditemukan adanya penurunan kekebalan dari vaksin inaktif yang digunakan.

Rekomendasi tersebut dikeluarkan setelah Strategic Advisory Group Experts (SAGE) imunisasi menggelar pertemuan beberapa waktu lalu, khusus untuk mengevaluasi kebutuhan vaksin booster.

Vaksin inaktif menggunakan metode dengan mengambil virus SARS-CoV-2 dan membunuhnya dengan bahan kimia, panas atau radiasi. Cara ini merupakan salah satu cara yang populer digunakan dalam pembuatan vaksin di dunia kesehatan.

WHO tidak menyebut nama vaksin dalam laporan tersebut. Namun, sejauh ini baru dua jenis vaksin inaktif yang dikantongi daftar penggunaan darurat (EUL) dari WHO yaitu Sinovac Coronavac dan Sinopharm dengan nama BBIBP-COrV.

Baca Juga :  Himpunan

[Gambas:Video CNBC]

(wi)